Pada bulan November 2025, SMP Negeri 167 Jakarta melaksanakan kegiatan Kokurikuler. Kokurikuler kali ini bertema “Permainan Tradisional”. Kokurikuler ini adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan di luar jam pelajaran intrakurikuler untuk memperkuat, memperdalam, atau memperdaya materi pelajaran kelas. Kokurikuler kali ini mengadakan beberapa lomba seru yang siap untuk memeriahkan suasana serta melestarikan beberapa permainan tradisional. Setiap perlombaan dirancang untuk menguji kekompakan, strategi, serta yang pasti adalah semangat sportivitas dari masing-masing kelas.
Permainan Tradisional Congklak:

Permainan tradisional congklak adalah salah satu permainan yang populer di Indonesia dan dikenal dengan berbagai nama di beberapa daerah, seperti “Dakon” di Jawa Barat. Congklak termasuk permainan papan yang dimainkan oleh dua orang dengan menggunakan papan yang memiliki 7 lubang kecil berhadapan dan 2 lubang besar di ujungnya. Setiap lubang kecil diisi biji sebanyak 7 biji sebelum permainan dimulai. Permainan ini menguji kemampuan berhitung dan strategi karena pemain harus memindahkan biji secara searah jarum jam dan berusaha mengumpulkan biji sebanyak mungkin di lubang besar atau rumah miliknya. Cara bermain congklak dimulai dengan memilih lubang kecil yang berisi biji, lalu mengambil biji tersebut dan menjatuhkannya satu per satu ke lubang-lubang berikutnya searah jarum jam. Jika biji terakhir jatuh di lubang kecil yang berisi biji lain, pemain melanjutkan memindahkan biji. Permainan berakhir ketika semua lubang kecil kosong, dan pemenangnya adalah pemain yang memiliki biji terbanyak di lubang besar. Aturan ini menuntut kejujuran pemain dalam menjatuhkan biji satu per satu dan juga kesabaran menunggu giliran serta menyusun strategi. Selain menjadi hiburan, bermain congklak memiliki nilai edukatif, seperti mengasah kemampuan berhitung, melatih kejujuran, dan kesabaran. Permainan ini juga memiliki makna budaya yang mendalam sebagai warisan budaya yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Nusantara. Di beberapa daerah, biji yang digunakan bisa berupa cangkang kerang, biji-bijian, atau batu kecil sesuai ketersediaan lokal. Dengan demikian, congklak bukan hanya permainan untuk anak-anak tetapi juga media pembelajaran dan pelestarian budaya yang penting di Indonesia.
Permainan Tapak Balok:

Permainan Tradisional Tapak Balok ( putra & putri ) SMP 167 melestarikan permainan tradisional tapak balok yang berasal dari daerah Kalimantan Selatan Permainan tradisional tapak balok sangat populer di daerah Kalimantan dan sering dilombakan dalam acara-acara besar, seperti peringata Hari Kemerdekaan Indonesia. salah satu yang memancing semangat murid murid SMP 167. Tiap kelas menurunkan 4 pemain yang jogo jago, aksi ini saling kejar skor yang membuat suasana terasa sengit. Pemain harus memindahkan balok di belakangnya ke depan pada setiap langkah, sehingga mereka bisa terus bergerak maju, Pemain tidak boleh menyentuh tanah dengan kaki atau bagian tubuh lainnya selain di atas balok. Biasanya dibutuhkan empat balok kecil yang berukuran panjang sekitar 25 cm, lebar 9 cm , dan tebal 4 cm, atau sejenisnya yang kuat untuk menopang berat badan. Jika pemain menyentuh tanah, ia biasanya harus mengulang dari awal atau didiskualifikasi.Permainan ini bisa dimainkan secara individu atau beregu, dengan adu kecepatan siapa yang paling cepat sampai di garis finis ia yang menang. Lomba ini bukan cuma adu teknik tapi juga melatih, kelincahan, keseimbangan, koordinasi, kekompakan tim dan konsentrasi.
Permainan Gobak Sodor:

Gobak sodor, sering juga disebut “benteng” atau “tebak benteng,” adalah permainan tradisional yang membutuhkan ketangkasan, strategi, dan kerja sama tim. Tujuannya sederhana: tim penyerang (pelarian) harus melintas lapangan dari bawah ke atas tanpa tertangkap oleh tim penjaga (penjaga/sentri) yang mengawal jalur-jalur tertentu. Sejarah dan Asal-Usul: Permainan ini populer sejak lama di Indonesia, khususnya di Jawa. Namanya diambil dari bahasa Jawa “gobak” (menjaga) dan “sodor” (menyerang). Dulunya lapangan tak selalu berupa garis, kerap cuma tonggak atau batas imajiner, dan orang bermain di halaman rumah atau lapangan sekolah. Sekarang permainan ini tetap lestari di banyak sekolah, komunitas, dan even peringatan hari peringatan. Ada banyak variasi nama dan cara main di berbagai daerah, namun intinya relatif sama: tantang penjaga agar bisa lewat. Persiapan- Jumlah pemain: 6 orang (4 penjaga + 2 pelarian). Bisa digilir kalau banyak yang ikut.- Lapangan:Ukuran standar yang sering dipakai: 9–10 meter panjang x 4–5 meter lebar. Bagi lapangan menjadi tiga jalur memanjang (kiri, tengah, kanan), masing-masing lebarnya sekitar 1/3 lebar lapangan. Tandai 2 titik silang vertikal (baris 1 dan baris 2) untuk posisi penjaga. Titik awal (start) dan titik finish biasanya di tepi bawah dan tepi atas.- Peran: 2 penjaga silang (bergantian menjaga di dua titik silang).2 penjaga tepi (kiri dan kanan tepi lapangan). 2 pelarian (penyerang). Catatan: Jika ingin lebih ramai, bisa tambah pelarian; pastikan tetap mudah terlihat lintas jalurnya. Dulu lapangan di bagi 4 jalur, sekarang lebih umum 3 jalur. Yang penting klarifikasi aturan di awal. Aturan Dasar. Pelari harus mencapai titik finish tanpa menyentuh atau melewati garis “larangan” (biasanya garis di antar segmen yang membatasi langkah mereka). Saat tertentu, seluruh jempol kaki/pinggang

Editor & Penulis : Sekbid 8 (OSIS MADHASATTVA)
